Dua cokelat itu dibungkus kertas warna merah muda dan diikat pake pita biar keliatan manis en cantik. Gak ketinggalan, mawar merah yang masih seger dibawa untuk kekasih tercinta. Setelah siap, cokelat en mawar di tangan , Oki memandangi dirinya di depan cermin sambil mengulang-ulang kata “I Love You…,” sambil tersenyum. Setelah oke, siswa kelas III SMP Negeri di Jakarta Timur ini bergegas menemui pacarnya, Lulu (14), teman sekelasnya untuk merayakan Hari Valentine di sebuah restoran.
Sobat muda, mendadak romantis seperti kisah di atas sering terjadi pada bulan Februari. Muda-mudi menjadi begitu romantis bagi lawan jenisnya, terutama pacar atawa gebetannya cuman setaon sekali. Banyak pihak seperti satsiun teve, radio, tempat nongkrong seperti kafe, restoran dan mall disulap sedemikian rupa untuk menyambut satu perayaan di bulan ini, Hari Kasih Sayang atau yang nge-trend dengan istilah Valentine’s Day. Trus, apa sih Valentine’s Day itu? Apa boleh muda-mudi Muslim seperti kita ngerayainnya? En apa berkasih-sayang cuman bisa dilakukan setaon sekali?
Sejarah Valentine’s Day
Menurut tradisi Romawi Kuno, pertengahan Februari emang udah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Saat itu dikenal hari raya Lupercalia, yang merujuk pada nama dewa kesuburan, Lupercus. Pada acara ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis. Bagi nama gadis yang keluar harus menjadi pasangan pemuda selama setahun untuk berzina. Na’udzubillah.
Katolik mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani saat memasuki Roma. Antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama Paus atau Pastor. Cara ini didukung Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, subjudul: Christianity). Agar lebih mendekatkan dengan ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Raya Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat : The World Book Encyclopedia 1998).
The Catholic Encyclopedia Vol.XV subjudul St. Valentine menuliskan, ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang diantaranya mati pada masa Romawi. Namun demikian nggak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” itu. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah dewa-dewi Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan meletakkannya di penjaranya.
Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara lajang lebih tabah dan kuat di medan perang daripada yang menikah. Sebab itu kaisar melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah. Tindakan ini mendapat penentangan dari Santo Valentine dan ia secara diam-diam menikahkan banyak pemuda hingga ia ditangkap dan digantung pada 14 Februari 269 M.
Oke sobat muda, sekarang kita udah tau sejarah Valentine’s Day. Nah, sebagai muda-mudi Muslim, tak selayaknya kita merayakan hari raya agama lain. Hari Valentine bukan seperti Hari Ibu, Hari Pahlawan ato Hari Kemerdekaan yang nasionlis abis, tapi hari raya itu sangat relijius bagi agama lain. Lagian, untuk menyatakan cinta dan menunjukkan kasih-sayang kita kepada orangtua, kakak ato adik kita kan nggak mesti nungguin 14 Februari.

